in

Kisah Nabi Idris dalam Al Quran dan Alkitab | by Wiji Al Jawi | Jun, 2022


Photo by Benjamin Voros on Unsplash

Nabi Idris ‘alaihis salam termasuk nabi yang kisahnya sedikit disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits. Al Qur’an hanya menyebutnya dua kali, yaitu di surat Maryam 56–57 dan Al Anbiyaa’ 85–86.

Karena itu ketika para ulama membahas kisah Nabi Idris, umumnya mereka menggunakan interpretasi (tafsiran) serta perbandingan dengan kisah dalam Alkitab (sumber Israiliyat).

Metode interpretasi yang digunakan adalah kesamaan makna nama dan kisah hidup.

Kesamaan dalam Alkitab

Dalam Alkitab, tokoh yang memiliki kesamaan makna nama dan kisah hidup dengan Nabi Idris adalah Henokh (Enoch).

Secara bahasa, kata ‘Idris’ (إدريس) berasal dari kata درس yang berarti pelajaran, sehingga kata ‘Idris’ memiliki makna orang yang gemar belajar atau orang yang sangat bijak.

Sedangkan Henokh berasal dari bahasa Ibrani ‘hanokh’ yang berarti orang yang berdedikasi, terlatih dan berpengetahuan mendalam.

Dalam Al Qur’an, Nabi Idris disebutkan telah diangkat ke tempat yang tinggi.

وَّرَفَعْنٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا

“Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.” (QS. Maryam: 57)

Dalam hadits kisah Isra’ Mi’raj, disebutkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Nabi Idris di langit keempat.

ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ الرَّابِعَةَ

فَفُتِحَ فَلَمَّا خَلَصْتُ إِلَى إِدْرِيسَ

“Kemudian aku dibawa naik ke langit keempat … Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku berjumpa dengan Idris ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari)[1]

Sehingga maksud tempat yang tinggi dalam surat Maryam ayat 57 adalah langit keempat.

Sedangkan dalam Alkitab, Henokh juga disebutkan telah diangkat oleh Allah.

“Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” (Kitab Kejadian 5:24)

Dalam Kitab Kejadian pasal kelima, disebutkan 10 generasi dari Adam sampai Nuh, dan Henokh merupakan generasi ketujuh.

Oleh karena itu, para ulama Islam pun umumnya menempatkan silsilah Nabi Idris sesudah Nabi Adam dan sebelum Nabi Nuh.

Nabi Idris sebagai Penemu

Melalui interpretasi makna nama (orang yang gemar belajar) dan kisah hidup (sesudah Nabi Adam dan sebelum Nabi Nuh), para ulama menyimpulkan bahwa Nabi Idris merupakan penemu teknologi awal.

Seperti Ibnu Ishaq yang menyebutkan bahwa Nabi Idris adalah orang pertama yang mengenalkan tulisan serta membuat baju dengan benang (manusia sebelumnya menggunakan kulit pohon atau binatang).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengutip riwayat dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Idris adalah seorang penjahit.[2]

Dalam hadits juga disebutkan ada seorang nabi di masa lalu yang biasa menulis.

Dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami dia berkata, “Di antara kami ada beberapa orang yang menuliskan garis hidup.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ يَخُطُّ فَمَنْ وَافَقَ خَطَّهُ فَذَاكَ

“Dahulu ada salah satu nabi yang biasa menulis garis, maka barangsiapa yang bersesuaian dengan garisnya (tulisannya), maka itulah (yang boleh).” (HR. Muslim)[3]

Konteks hadits ini adalah larangan astrologi, yaitu menulis atau menggambar peredaran benda langit untuk meramal nasib.

Yang dibolehkan adalah astronomi, yaitu menulis atau menggambar peredaran benda langit untuk mengetahui arah perjalanan dan penyusunan kalender.

Hadits ini menunjukkan bahwa nabi tersebut (Idris ‘alaihis salam) bukan hanya sudah mengetahui dan mempelajari tulisan, namun juga astronomi dan matematika.

Temuan Arkeologis

Sedangkan menurut catatan sejarah, temuan arkeologis berupa lempeng tanah liat dari Irak, disebutkan kisah Raja Atrahasis dalam salah satu Daftar Raja Sumeria.

Atrahasis secara bahasa berarti sangat bijaksana. Raja ini dikisahkan hidup di masa sebelum Banjir Besar. Makna nama dan periode hidupnya memiliki kesamaan dengan Nabi Idris.

Pengunaan interpretasi melalui kesamaan makna nama dan kisah hidup ini merupakan hal yang dibolehkan selama didasarkan pada dalil, yaitu ayat Al Qur’an dan hadits.

Pengunaan interpretasi yang tidak dibolehkan adalah yang penafsirannya terlalu jauh dari dalil, seperti sebagian kalangan yang menganggap Nabi Idris masih hidup hingga zaman sekarang.

Wallahu A’lam

[1] Aplikasi Lidwa, Ensiklopedi Hadits — Kitab 9 Imam, Kitab Shahih Bukhari no. 3598 (no. 3887 versi Fathul Bari).

[2] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 3 (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hal. 203.

[3] Aplikasi Lidwa, Ensiklopedi Hadits — Kitab 9 Imam, Kitab Shahih Muslim no. 836 (no. 537 versi Syarh Shahih Muslim).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings