in

Kisah Nabi Ilyas dalam Al Quran dan Alkitab | by Wiji Al Jawi | Jul, 2022


Photo by Davide Cantelli on Unsplash

Nabi Ilyas ‘alaihis salam termasuk nabi yang tidak banyak disebutkan kisahnya dalam Al Qur’an dan hadits. Al Qur’an hanya menyebutnya di surat Al An’aam ayat 85 dan surat Ash Shaaffaat ayat 123–132.

Sebagian kisah Nabi Ilyas yang beredar di umat Islam berasal dari kisah dalam Alkitab (sumber Israiliyat). Sehingga perlu dipilah dan ditimbang kembali berdasarkan kaidah dari Al Qur’an dan hadits.

Perpecahan Bani Israel

Berdasarkan kisah dalam Alkitab, kitab 1 Raja-raja 12:19–21, Kerajaan Israel mengalami perpecahan pasca wafatnya Nabi Sulaiman ‘alaihis salam.

Dari 12 suku Bani Israel, hanya 2 suku yang tetap setia terhadap kepemimpinan Rehabeam putra Sulaiman, yaitu suku Yehuda dan suku Benyamin.

Sedangkan 10 suku yang lain memberontak dan mendirikan kerajaan baru di sebelah utara Yerusalem. Karena berasal dari suku mayoritas Bani Israel (10 dari 12 suku), kerajaan di utara tersebut disebut Kerajaan Israel, ibukotanya adalah Samaria.

Sementara kerajaan lama (suku Yehuda dan Benyamin), karena dipimpin oleh keturunan suku Yehuda, yaitu Rehabeam putra Sulaiman, maka kerajaan di selatan disebut Kerajaan Yehuda/Yahudi dengan ibukotanya adalah Yerusalem.

Kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda/Yahudi saling bermusuhan, serta terpengaruh agama tradisional penduduk Kanaan.

Raja-raja Kerajaan Israel dan banyak raja Kerajaan Yehuda adalah raja yang buruk karena tidak menegakkan Tauhid, tetapi malah menyembah Allah bersama sesembahan penduduk Kanaan.

Karena di antara dua kerajaan tersebut yang paling parah adalah Kerajaan Israel, Nabi Ilyas pun diutus kepada Kerajaan Israel (Samaria).

Ba’al dan Astoret

Kesamaan kisah Nabi Ilyas dalam Al Quran dan Alkitab adalah kisah dakwah Nabi Ilyas pada kaumnya agar mereka tidak menyembah Ba’al.

وَاِنَّ اِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ

اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَلَا تَتَّقُوْنَ

اَتَدْعُوْنَ بَعْلًا وَّتَذَرُوْنَ اَحْسَنَ الْخَالِقِيْنَۙ

Dan sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya,

“Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba’al dan kamu tinggalkan (Allah) sebaik-baik pencipta.”

(QS. Ash Shaaffaat: 123–125)

Ba’al adalah dewa hujan dan petir menurut bangsa Kanaan. Kepercayaan ini terinspirasi dari Dewa Hadad Mesopotamia, dan menginspirasi hadirnya Dewa Zeus di Yunani dan Dewa Jupiter di Romawi.

Ba’al dianggap memiliki pasangan yang bernama Astoret/Asyera, yaitu dewi kesuburan menurut bangsa Kanaan. Kepercayaan ini terinspirasi dari Dewi Ishtar Mesopotamia, dan menginspirasi hadirnya Dewi Aphrodite di Yunani dan Dewi Venus di Romawi.

Hujan dan kesuburan adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh peradaban di masa lalu. Sehingga dewa yang dianggap berperan mengatur hujan dan kesuburan pun menempati posisi penting di masyarakat.

Dalam Alkitab, Nabi Ilyas disebut sebagai Elia (Elijah). Dalam kitab 1 Raja-raja disebutkan:

16:29 … Ahab bin Omri memerintah dua puluh dua tahun lamanya atas Israel di Samaria

16:30 Ahab bin Omri melakukan apa yang jahat di mata TUHAN …

16:31 … ia pergi beribadah kepada Baal dan sujud menyembah kepadanya

16:32 Kemudian ia membuat mezbah untuk Baal itu di kuil Baal yang didirikannya di Samaria

16:33 Sesudah itu Ahab membuat patung Asyera, … sehingga ia menimbulkan sakit hati TUHAN, Allah Israel …

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengutip riwayat dari Wahab ibn Munabbih bahwa Nabi Ilyas diutus kepada kaum Bani Israel yang menyembah berhala Ba’al. Nabi Ilyas kemudian berdoa kepada Allah agar menahan hujan dari mereka selama tiga tahun.[1]

Dalam kitab 1 Raja-raja 18:1–45 disebutkan bahwa setelah tiga tahun tidak diturunkan hujan, Nabi Ilyas menantang tokoh-tokoh agama penyembah Ba’al dan Asyera untuk berkurban dan berdoa di gunung Karmel. Siapa yang kurban dan doanya berhasil mendatangkan hujan maka dialah yang benar.

Ternyata, kurban dan doa para penyembah Ba’al dan Asyera gagal mendatangkan hujan. Sedangkan kurban dan doa Nabi Ilyas kepada Allah berhasil mendatangkan hujan yang lebat.

Rakyat yang melihat kejadian itu lalu sujud dan menyatakan keimanannya kepada Allah. Para tokoh agama penyembah Ba’al dan Asyera kemudian ditangkap dan disembelih di sungai Kison.

Raja Ahab sendiri tetap dalam keingkarannya sampai dia mati.

Wafatnya Nabi Ilyas

Dalam Alkitab, kitab 2 Raja-raja 2:11 disebutkan bahwa ketika Nabi Ilyas sedang berjalan bersama muridnya, yaitu Elisa (Nabi Ilyasa’), “tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai.”

Kisah diangkatnya Nabi Ilyas ke surga dalam keadaan hidup, tidak disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits. Namun kisah ini turut memunculkan hadits-hadits palsu yang menyatakan bahwa Nabi Ilyas masih hidup sampai sekarang.

Ibnu Katsir dalam kitabnya, Kisah Para Nabi, menyatakan bahwa Nabi Ilyas telah wafat.[2]

Seandainya Nabi Ilyas dan nabi-nabi lainnya (misalnya Idris dan Khidir) masih hidup, maka pastilah mereka akan mendatangi, berbaiat, dan mengikuti serta membantu dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ النَّبِيّٖنَ لَمَآ اٰتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتٰبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهٖ وَلَتَنْصُرُنَّهٗ ۗ قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَاَخَذْتُمْ عَلٰى ذٰلِكُمْ اِصْرِيْ ۗ قَالُوْٓا اَقْرَرْنَا ۗ قَالَ فَاشْهَدُوْا وَاَنَا۠ مَعَكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.”

Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, ”Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.”

(QS. Ali ‘Imran:81)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Seandainya Musa alaihissalam masih hidup maka tidak ada jalan lain selain dia mengikutiku.”

(HR. Ahmad no. 14623 versi aplikasi Lidwa)

Seandainya memang benar Nabi Ilyas diangkat ke langit (surga) dalam keadaan hidup (seperti Nabi Idris), maka mereka tetap memiliki ajal dan wafat di langit sebagaimana makhluk pada umumnya.

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَۗ اَفَا۟ىِٕنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخٰلِدُوْنَ

“Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?”

(QS. Al Anbiyaa’:34)

Sedangkan mengenai Nabi Isa yang juga diangkat ke langit dalam keadaan hidup, maka hal ini terdapat dalil yang menyebutkan bahwa Nabi Isa akan diturunkan kembali di akhir zaman untuk membunuh Dajjal.

فَيَبْعَثُ اللَّهُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ

“Lalu Allah mengutus Isa bin Maryam, ia mencari Dajjal dan membunuhnya.”

(HR. Muslim no. 5233 versi aplikasi Lidwa, no. 2940 versi Syarh Shahih Muslim)

Sehingga saat ini Nabi Isa masih hidup di langit dalam kondisi sebagaimana Ashabul Kahfi ditidurkan di dalam gua.

Wallahu A’lam

[1] Tafsir Surat Ash-Shaffat, ayat 123–132. http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-ash-shaffat-ayat-123-132.html (diakses pada 31 Juli 2022, pukul 9.45).

[2] Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi (Jakarta: Ummul Qura, 2015), hlm. 717.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings