in

Kisah Nabi Ilyasa’ dalam Al Quran dan Alkitab | by Wiji Al Jawi | Aug, 2022


Photo by Falaq Lazuardi on Unsplash

Nabi Ilyasa’ ‘alaihis salam hanya disebutkan dua kali dalam Al Qur’an, yaitu di surat Al An’aam ayat 86 dan surat Shaad ayat 48.

وَاِسْمٰعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَيُوْنُسَ وَلُوْطًاۗ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ

“Dan Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Luth. Tiap-tiap mereka Kami lebihkan derajatnya di atas (umat) seluruh alam (pada masanya).”

(QS. Al An’aam: 86)

وَاذْكُرْ اِسْمٰعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ ۗوَكُلٌّ مِّنَ الْاَخْيَارِۗ

“Dan ingatlah Ismail, Ilyasa’, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.”

(QS. Shaad: 48)

Ibnu Katsir dalam kitabnya, “Kisah Para Nabi”, menyebut keterangan dari Wahab bin Munabbih bahwa setelah Nabi Ilyas wafat maka Ilyasa’ menggantikan tugasnya dan menjadi nabi bagi Bani Israel.[1]

Sumber Israiliyat

Ayat Al Qur’an yang menyebut Nabi Ilyasa’ tidak banyak menjelaskan kisah hidupnya. Penulis pun sampai saat ini belum menemukan hadits shahih yang menjelaskan tentang kisah hidup beliau.

Sedangkan keterangan dari Wahab bin Munabbih berasal dari Sumber Israiliyat, yaitu Kitab 2 Raja-raja pasal 2.

Wahab bin Munabbih (wafat 110 H) merupakan Tabi’in yang berasal dari Yaman. Ia lahir di masa Kekhalifahan Utsman radhiallahu ‘anhu, ayahnya adalah seorang Persia.

Wahab bin Munabbih banyak membaca kitab-kitab ahli kitab, baik dari Yahudi Yaman maupun Nasrani Habasyah.

Ia termasuk perawi hadits yang tsiqah (terpercaya). Riwayat Wahab bin Munabbih terdapat dalam Kitab Shahih Bukhari, yaitu tentang menulis hadits di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.[2]

Riwayat Wahab bin Munabbih juga terdapat dalam Kitab Shahih Muslim, yaitu hadits tentang larangan meminta-minta.[3]

Artinya, para ulama terdahulu yang tsiqah telah biasa menggunakan Sumber Israiliyat. Karena hal ini memang dibolehkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ

“Sampaikan dariku sekalipun satu ayat, dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Israil dan itu tidak apa-apa.”

(HR. Bukhari no. 3202 versi aplikasi Lidwa, no. 3461 versi Fathul Bari)

Walaupun demikian, penggunaan Sumber Israiliyat (termasuk Alkitab) harus melalui proses pemilahan karena kandungannya telah tercampur dengan kedustaan (mengalami perubahan).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ

“Janganlah kalian membenarkan Ahlul Kitab dan jangan pula mendustakannya.”

(HR. Bukhari no. 4125 versi aplikasi Lidwa, no. 4485 versi Fathul Bari)

Hikmah Kisah Nabi Ilyasa’

Sebagian ahli tafsir kontemporer, misalnya Muhammad Rasyid Ridha (1865–1935 M) yang menyusun Tafsir Al Manar, menolak total penggunaan Sumber Israiliyat.

Sehingga beliau dalam kitab tafsirnya umumnya tidak menggali lebih jauh mengenai kisah hidup Nabi Ilyasa’, dan hanya menjelaskan tafsiran ayat secara umum.

Hal ini pada dasarnya dibolehkan, karena menggunakan Sumber Israiliyat bukanlah kewajiban. Namun, hal ini membuat pembaca menjadi kurang dapat mengambil hikmah dari keteladanan sang nabi.

Dalam Alkitab, Nabi Ilyasa’ disebut Elisa. Kisahnya terdapat dalam Kitab 2 Raja-raja pasal 2–13. Jika kita pilah dan hanya mengambil kisah yang aman maka akan kita dapati hikmah dari kisah hidup Nabi Ilyasa’.

Sebagaimana disebutkan dalam tulisan sebelumnya mengenai Kisah Nabi Ilyas, raja-raja Kerajaan Israel adalah raja yang buruk dan tidak menegakkan Tauhid.

Nabi Ilyasa’ pun melanjutkan dakwah Nabi Ilyas, yaitu menentang keburukan raja Israel. Namun, Nabi Ilyasa’ adalah seorang oposisi loyal. Beliau tetap membantu raja Israel saat kerajaannya diserang musuh.

Nabi Ilyasa’ antara lain membantu Kerajaan Israel saat berperang melawan Kerajaan Moab (Kitab 2 Raja-raja pasal 3), serta saat Kerajaan Israel berperang melawan Kerajaan Aram (Kitab 2 Raja-raja pasal 6).

Inilah salah satu hikmah dari kisah Nabi Ilyasa’, yaitu kritis terhadap raja yang berkuasa namun tetap setia pada kerajaan serta tidak bermaksud menjatuhkan raja yang berkuasa.

Wallahu A’lam

[1] Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi (Jakarta: Ummul Qura, 2015), hlm. 729.

[2] Aplikasi Lidwa, Ensiklopedi Hadits — Kitab 9 Imam, Kitab Shahih Bukhari no. 110 (no. 113 versi Fathul Bari).

[3] Aplikasi Lidwa, Ensiklopedi Hadits — Kitab 9 Imam, Kitab Shahih Muslim no. 1720 (no. 1038 versi Syarh Shahih Muslim).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings