in

Kisah Nabi Yahya dalam Al Quran dan Alkitab | by Wiji Al Jawi | Dec, 2022


Photo by Rory Hennessey on Unsplash

Sebagaimana Nabi Zakaria ‘alaihis salam, yang telah disebutkan dalam tulisan sebelumnya, Nabi Yahya ‘alaihis salam pun tidak disebutkan dalam Alkitab Yahudi, karena orang Yahudi menganggap nabi terakhir mereka adalah Maleakhi (sekira abad ke-5 SM).

Sementara dalam Alkitab Nasrani, kisah Nabi Yahya disebutkan dalam empat Injil kanonik (Injil yang diakui gereja sebagai kitab suci), yaitu Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

Nama Nabi Yahya

Di antara perbedaan kisah Nabi Yahya dalam Al Qur’an dan Alkitab adalah nama Nabi Yahya. Nama yang digunakan dalam Alkitab (Bahasa Indonesia) adalah Yohanes; dalam Bahasa Jerman adalah Johannes; Bahasa Inggris: John; Bahasa Spanyol: Juan.

Nama tersebut berasal dari Bahasa Ibrani: Yôḥānān (יוֹחָנָן), yang merupakan bentuk singkat dari Yəhôḥānān (יְהוֹחָנָן), yang berarti “Tuhan yang pengasih” atau “belas kasih Tuhan”.

Sedangkan nama Nabi Yahya dalam Al Qur’an adalah Yahya (يحيى) yang merupakan bentuk fi’il (kata kerja) dari kata “Hidup” (الحياة).

Kata “Yahya” dalam Bahasa Arab bukanlah padanan kata “Yohanan” dalam Bahasa Ibrani. Padanan kata “Yohanan” dalam Bahasa Arab adalah Yuḥanna (يوحنا), dan kata Yuḥanna ini yang digunakan dalam Injil Bahasa Arab.

Sehingga “Yahya” dan “Yohanan” adalah dua nama yang berbeda.

Lalu, nama manakah yang benar?

Hal ini bisa kita telusuri dari komunitas minoritas Mandaean di Irak. Mandaean (orang Arab menyebut mereka Sabean) adalah agama Monoteistik dari wilayah Palestina yang bermigrasi ke wilayah Irak sekira dua ribu tahun yang lalu karena mengalami penindasan di wilayah asalnya.

Orang Mandaean berbicara dalam bahasa Aram Timur. Mereka menganggap Adam, Syits, Nuh, Sam, dan Yahya sebagai nabi, dengan Yahya sebagai nabi terbesar dan terakhir. Mereka juga meyakini sebagai keturunan langsung dari murid-murid Nabi Yahya di Yerusalem.

Orang Mandaean menyebut Nabi Yahya dengan nama “Yahia Yuhana”, di mana Yahia adalah nama asli, dan Yuhana sebagai gelar atau julukan atau nama panggilan.[1]

Kata “Yahia” dalam Bahasa Aram adalah padanan kata “Yahya” dalam Bahasa Arab, dan kata “Yuhana” dalam Bahasa Aram adalah padanan kata “Yuḥanna” dalam Bahasa Arab atau “Yohanan” dalam Bahasa Ibrani.

Oleh karena itu, nama Yahya dalam Al Qur’an merupakan nama asli, dan nama Yoḥanes/Yohanan dalam Alkitab adalah gelar atau nama panggilan.

Hubungan antara nama asli dan gelar ini sama seperti nama ayah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yang telah dibahas dalam tulisan yang lalu, di mana Al Qur’an menyebut namanya sebagai Azar, sementara Alkitab menyebut namanya sebagai Terah.

Gelar Yuḥanna/Yohanan ini pun terdapat dalam Al Qur’an, yaitu Surat Maryam: 13 yang menyebut Nabi Yahya sebagai “Hananan” (حَنَانًا) atau belas kasih dari Tuhan (حَنَانًا مِّن لَّدُنَّا).

Kata Yuḥanna/Yohanan dalam Alkitab pun berarti “belas kasih Tuhan”, di mana kata tersebut terdiri dari kata “Yu” yang merupakan kependekan dari Yehuwa (nama Tuhan dalam Bahasa Ibrani), serta kata “Hanan” (belas kasih).

Gelar atau julukan ini diperoleh Nabi Yahya karena hatinya bersih dari sifat tercela sehingga suci (زَكَوٰةً) dari dosa (Q.S. Maryam: 13) dan memperoleh hikmah sejak kanak-kanak (Q.S. Maryam: 12).

Lalu apa makna nama “Yahya”?

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya saat membahas Surat Maryam: 7 menyebutkan beberapa pendapat. Di antaranya adalah pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa nama tersebut diberikan karena belum pernah ada wanita mandul yang melahirkan.

Kelahiran Nabi Yahya berbeda dengan Nabi Ishaq ‘alaihis salam. Walaupun Nabi Ishaq dilahirkan saat orang tuanya sudah berusia lanjut, tetapi orang tuanya tidak mandul. Sedangkan Nabi Yahya dilahirkan dalam kondisi orang tuanya sudah berusia lanjut dan mandul.[2]

Oleh karena itu ia dinamakan Yahya (hidup) karena ia seperti dihidupkan dari rahim yang sudah mati (mandul).

Dakwah Nabi Yahya

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa Nabi Yahya mengumpulkan Bani Isra`il di Baitul Maqdis, sampai masjid itu menjadi penuh, dia duduk pada tempat imam, memuji Allah dan berkata:

“Allah azza wa jalla memerintahkanku lima hal dan agar kalian juga mengamalkannya: … Saya perintahkan kalian menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. … Saya perintahkan kalian untuk shalat. … Saya perintahkan kalian untuk berpuasa. … Saya perintahkan kalian untuk bersedekah. … Saya perintahkan kalian untuk banyak berdzikir kepada Allah azza wa jalla.”

(HR. Ahmad no. 16542 dalam aplikasi Lidwa)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa فَجَمَعَ يَحْيَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ حَتَّى امْتَلَأَ الْمَسْجِدُ (Nabi Yahya mengumpulkan Bani Isra`il di Baitul Maqdis, sampai masjid itu menjadi penuh). Hal ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Yahya mendapat sambutan luas dari masyarakat.

Hal serupa juga disebutkan dalam Injil Matius 3:4–5 bahwa “Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan.”

Wafatnya Nabi Yahya

Nabi Yahya dibunuh karena menegur Herodes Antipas, Raja Yahudi yang menjadi bawahan Romawi untuk wilayah Galilea dan Perea, di paruh awal abad ke-1 M.

Injil Markus 6:17–18 menyebutkan bahwa Herodes Antipas menikahi mantan istri saudaranya, padahal saudaranya tersebut masih hidup, di mana hal ini melanggar hukum Taurat.

Walaupun Nabi Yahya meninggal dalam kondisi dibunuh (dipenggal kepalanya), namun Al Qur’an menyatakan bahwa Nabi Yahya memperoleh kesejahteraan di waktu kelahiran, kematian, dan kebangkitannya kembali di akhirat.

وَسَلَٰمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”

(QS. Maryam: 15)

Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Yahya dibunuh dalam kondisi selamat dari ujian dunia (godaan setan dan hawa nafsu) karena telah mengatakan kebenaran di depan penguasa zalim.

Wallahu A’lam

[1] https://www.islamic-awareness.org/quran/contrad/external/yahya (diakses pada 2 Desember 2022, pukul 13.35).

[2] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 3 (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hal. 181.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings