in

Kisah Nabi Zakaria dalam Al Quran dan Alkitab | by Wiji Al Jawi | Nov, 2022


Photo by Khamkéo Vilaysing on Unsplash

Kisah Nabi Zakaria ‘alaihis salam tidak disebutkan dalam Alkitab Yahudi, karena orang Yahudi menganggap nabi terakhir mereka adalah Maleakhi (sekira abad ke-5 SM).

Sementara dalam Alkitab Nasrani, Kisah Nabi Zakaria disebutkan dalam Injil Lukas. Injil Lukas 1:5 menyebutkan bahwa Nabi Zakaria hidup di zaman Herodes, raja Yudea (abad ke-1 SM).

Keutamaan Keluarga ‘Imran (Ali ‘Imran)

Injil Lukas 1:5 juga menyebutkan bahwa Nabi Zakaria dan istrinya (Elisabet) merupakan keturunan Nabi Harun ‘alaihis salam.

Injil Lukas 1:36 kemudian menyebutkan bahwa istri Nabi Zakaria (Elisabet) adalah saudara (kakak) dari Maryam (ibu Nabi Isa ‘alaihis salam).

Hal ini sesuai dengan Qur’an Surat (Q.S.) Maryam: 28 yang menyebut Maryam sebagai يَٰٓأُخْتَ هَٰرُونَ (saudara perempuan Harun), karena Maryam dan Elisabet adalah keturunan Nabi Harun.

Dalam hadits Isra Mi’raj pun disebutkan bahwa Nabi Isa dan Nabi Yahya ‘alaihis salam sebagai وَهُمَا ابْنَا الْخَالَةِ (mereka berdua sepupu dari jalur ibu).[1]

Dan Q.S. Ali ‘Imran: 35–36 menyebutkan bahwa Maryam adalah anak dari ‘Imran. Sehingga hal ini menjelaskan Q.S. Ali ‘Imran: 33 yang menyebutkan keutamaan keluarga ‘Imran, karena ‘Imran memiliki dua cucu yang menjadi nabi, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa.

Kesamaan dan Perbedaan

Injil Lukas 1:5 menyebutkan bahwa Nabi Zakaria adalah imam Bait Suci (Baitul Maqdis) di Yerusalem. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كَانَ زَكَرِيَّاءُ نَجَّارًا

“Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu.”[2]

Dua perbedaan ini bisa dipadukan (al-jam’u) karena dalam Injil Lukas 1:8–9 juga disebutkan bahwa tugas keimaman di Bait Suci dilakukan secara bergiliran.

Sehingga profesi tukang kayu dilakukan Nabi Zakaria ketika sedang tidak mendapat giliran melakukan tugas keimaman di Bait Suci.

Di antara kesamaan kisah Nabi Zakaria dalam Al Qur’an dan Alkitab adalah sama-sama menyebutkan dikabulkannya doa Nabi Zakaria yang meminta keturunan, yaitu di Q.S. Ali ‘Imran: 39 dan Injil Lukas 1:13.

Sedangkan di antara perbedaannya adalah dalam hal Nabi Zakaria tidak dapat berkata-kata dengan manusia kecuali dengan isyarat.

Alkitab menyebutkan bahwa Nabi Zakaria akan menjadi bisu karena tidak mempercayai perkataan malaikat Jibril (Injil Lukas 1:19–20).

Sementara Al Qur’an menyebutkan bahwa hal itu merupakan permintaan Nabi Zakaria sendiri.

قَالَ رَبِّ ٱجْعَل لِّىٓ ءَايَةً ۖ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا

Berkata Zakaria: “Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)”. Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat.”

(QS. Ali ‘Imran: 41)

Perbedaan lainnya adalah Alkitab tidak menjelaskan cara berdoa Nabi Zakaria dan sebab-sebab dikabulkan doanya.

Sedangkan Al Qur’an menyebutkan cara berdoa Nabi Zakaria, yaitu di Q.S. Maryam: 3–6, Ali ‘Imran: 38, dan Al Anbiyaa’: 89.

Al Qur’an juga menyebutkan sebab-sebab dikabulkannya doa Nabi Zakaria.

إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”

(QS. Al Anbiyaa’: 90)

Wafatnya Nabi Zakaria

Ibnu Katsir dalam kitabnya, “Kisah Para Nabi”, menyebutkan adanya dua pendapat mengenai wafatnya Nabi Zakaria, apakah dibunuh dengan cara digergaji ataukah meninggal dunia secara wajar.

Ibnu Katsir kemudian menyebut riwayat dari Ishaq bin Bisyr bahwa nabi yang dibunuh dengan cara digergaji adalah Nabi Yesaya (إِشَعْيَاء), sedangkan Nabi Zakaria meninggal dunia secara wajar.[3]

Wallahu A’lam

[1] Aplikasi Lidwa, Ensiklopedi Hadits — Kitab 9 Imam, Kitab Shahih Bukhari no. 3598 (no. 3887 versi Fathul Bari).

[2] Aplikasi Lidwa, Ensiklopedi Hadits — Kitab 9 Imam, Kitab Shahih Muslim no. 4384 (no. 2379 versi Syarh Shahih Muslim).

[3] Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi (Jakarta: Ummul Qura, 2015), hlm. 843.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings