in

Mengapa Nabi Ibrahim Diperintahkan Untuk Mengurbankan Putranya? | by Wiji Al Jawi | Jun, 2023


Wiji Al Jawi

Islampedia

Photo by Thijs Kennis on Unsplash

Al Qur’an surat Ash Shaaffaat: 102–107 menceritakan bahwa ketika Isma’il ‘alaihis salam telah sampai di usia dirinya mampu membantu ayahnya (usia tujuh tahun ke atas), Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diberikan mimpi untuk menyembelih Isma’il.

Nabi Ibrahim lalu meminta pendapat anaknya tersebut. Isma’il kemudian menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash Shaaffaat: 102).

Tatkala Ibrahim sudah membaringkan Isma’il di atas pelipisnya untuk dikurbankan, Allah pun mengganti Isma’il dengan seekor sembelihan yang besar (kambing gibas).

Isma’il atau Ishaq?

Sedangkan Alkitab dalam Kitab Kejadian menyebutkan bahwa yang dikurbankan adalah Ishaq ‘alaihis salam.

Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kitab Kejadian 22:2)

Namun, Alkitab sendiri telah menyatakan bahwa anak Nabi Ibrahim yang dikurbankan adalah anak tunggalnya. Sedangkan anak tunggal Nabi Ibrahim bukanlah Ishaq, melainkan Isma’il sebagai anak sulung yang pernah menjadi anak tunggal Nabi Ibrahim.

Alkitab menyebutkan bahwa Isma’il lahir ketika Nabi Ibrahim berusia 86 tahun (Kitab Kejadian 16:16). Sementara Ishaq lahir ketika Nabi Ibrahim berusia 100 tahun (Kitab Kejadian 21:5). Sehingga Isma’il sebagai anak sulung pernah menjadi anak tunggal Nabi Ibrahim selama sekira 14 tahun.

Peristiwa pengurbanan tersebut terjadi sebelum Ishaq lahir, sesuai dengan urutan penceritaan Al Qur’an yang baru menyebutkan kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq (QS. Ash Shaaffaat: 112) setelah peristiwa pengurbanan Isma’il (QS. Ash Shaaffaat: 102–107).

Al Qur’an surat Maryam: 54 juga menyebutkan salah satu sifat Isma’il, yaitu صَادِقَ ٱلْوَعْدِ (menepati janji). Hal ini karena Isma’il telah menepati janjinya untuk bersabar jika disembelih oleh ayahnya (QS. Ash Shaaffaat: 101–102).

Pengurbanan Manusia

Di masa lalu, pengurbanan manusia kerap dilakukan para penyembah berhala untuk menyenangkan atau menenangkan dewa yang mereka sembah. Pengurbanan anak dianggap sebagai bukti pengabdian kepada sembahannya, bahwa sembahannya lebih dicintai daripada anaknya sendiri.

Gambar segel silinder Babilonia yang melambangkan pengurbanan anak. Sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Child_sacrifice.

Risalah para Nabi ‘Alaihimussalam kemudian mengajarkan bahwa bukti kecintaan pada Allah cukup diwujudkan dengan mengurbankan hewan ternak. Sehingga hasil kurban tersebut selanjutnya dapat dimakan, dihadiahkan, dan disedekahkan oleh pihak yang berkurban.

Wallahu A’lam


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings