in

Nabi Ibrahim dan Tahun Baru di Mesopotamia | by Wiji Al Jawi | Jul, 2023


Wiji Al Jawi

Islampedia

Jelai (Barley) — Photo by Nitin Bhosale on Unsplash

Sumber Israiliyat, Kitab Kejadian 11:28, menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berasal dari kota Ur, dan hidup di masa Amrafel menjadi Raja Sinear (Kitab Kejadian 14:1).

Ur adalah kota di masa lalu yang saat ini berada di dekat Nasiriyah, Irak selatan. Sedangkan Sinear adalah nama yang digunakan di masa lalu untuk menyebut wilayah selatan Mesopotamia (Irak saat ini).

David Rohl dalam bukunya, “The Lords of Avaris”, menyatakan bahwa Amrafel adalah Amar-Sin, Raja Kota Ur yang bertahta sekira abad ke-20 atau 19 SM.[1]

Amar-Sin adalah gelar bagi Amrafel yang mengklaim sebagai titisan dewa bulan, Sin.

Tablet aksara paku yang menggambarkan Raja Kota Ur di bawah naungan dewa bulan (disimbolkan dengan bulan sabit). Sumber gambar: https://en.wikipedia.org/wiki/Third_Dynasty_of_Ur.

Azar, ayah Nabi Ibrahim yang disebutkan dalam Al Qur’an surat Al An’aam: 74, merupakan pemuka agama penyembah dewa bulan dan memiliki gelar yang berhubungan dengan kata bulan.

Alkitab mencatat gelar tersebut menggunakan bahasa Ibrani, yaitu Terah (Kitab Kejadian 11:27). Kata “Terah” dalam bahasa Ibrani memiliki hubungan dengan akar kata יָרֵחַ (y-r-h) yang berarti bulan.

Dakwah Nabi Ibrahim

Masyarakat Mesopotamia di masa itu adalah penganut politeisme, yaitu pemujaan kepada lebih dari satu Tuhan, terutama kepada 7 (tujuh) dewa yang mewakili tujuh benda langit utama.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya saat membahas surat Al An’aam: 76–83 menyatakan bahwa Nabi Ibrahim berdakwah menjelaskan kekeliruan kaumnya yang menyembah patung dewa-dewa dari tujuh benda langit, yaitu Bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus.[2]

Tujuh dewa langit tersebut adalah Sin (dewa bulan), Utu (dewa matahari), Ishtar (dewa planet Venus), Nabu (dewa planet Merkurius), Marduk (dewa planet Jupiter), Nergal (dewa planet Mars), dan Ninurta (dewa planet Saturnus).

Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus adalah lima planet yang dapat dilihat dari bumi dengan mata telanjang, tanpa perlu menggunakan teleskop atau alat bantu lainnya.

Di masa lalu, lima benda langit tersebut belum didefinisikan sebagai planet, tetapi masih dianggap sebagai bintang. Dan karena lima ‘bintang’ tersebut tidak berkedip seperti bintang lainnya maka kelimanya dianggap sebagai representasi dewa-dewa, serta dinamakan dengan nama dewa-dewa setempat.

Nabi Ibrahim berdakwah secara retoris, menggunakan sudut pandang lawan bicaranya. Kalimat هٰذَا رَبِّي bukan bermakna ikhbar (pernyataan), tetapi istifham inkari (pertanyaan untuk mengingkari). Jadi, هٰذَا رَبِّي tidak diterjemahkan sebagai ‘’inilah Tuhanku,’’ tetapi diterjemahkan sebagai ‘’inikah Tuhanku?’’

Awalnya, Nabi Ibrahim mempertanyakan penuhanan dewa-dewa yang melambangkan ‘bintang’, yang ternyata ‘bintang’ tersebut terbenam di kala siang (QS. Al An’aam: 76).

Nabi Ibrahim kemudian mempertanyakan penuhanan dewa-dewa yang melambangkan bulan dan matahari, yang ternyata bulan dan matahari pun terbenam sesuai masa edarnya (QS. Al An’aam: 77–78).

Bintang, bulan, dan matahari yang dapat terbenam menunjukkan bahwa benda-benda langit tersebut tidak layak untuk dijadikan sembahan.

Al Qur’an surat Al An’aam: 83 lalu menjelaskan bahwa metode dakwah Nabi Ibrahim ini adalah hujjah (argumentasi) yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.

Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala

Setelah mendakwahi kaumnya secara lisan, Nabi Ibrahim kemudian meningkatkan dakwahnya dengan perbuatan.

Al Qur’an surat Al Anbiyaa’: 57 menceritakan bahwa Nabi Ibrahim berencana melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kaumnya ketika mereka pergi meninggalkan patung-patung berhala tersebut.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya saat membahas surat Ash Shaaffaat: 88–90 menyatakan bahwa hal ini terjadi saat kaum Nabi Ibrahim pergi menuju perayaan mereka.[3]

Saat diajak untuk ikut ke hari raya kaumnya, Nabi Ibrahim mengatakan bahwa dirinya sedang sakit sembari memandang ke bintang-bintang (QS. Ash Shaaffaat: 88–89).

Kaumnya pun mempercayai bahwa Nabi Ibrahim mengalami sakit akibat telah menghina para dewa langit, sehingga Nabi Ibrahim lalu ditinggalkan sendiri.

Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيمُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَام قَطُّ إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ

{ إِنِّي سَقِيمٌ }

{ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا }

{ وَوَاحِدَةٌ فِي شَأْنِ سَارَةَ فَإِنَّهُ قَدِمَ أَرْضَ جَبَّارٍ وَمَعَهُ سَارَةُ وَكَانَتْ أَحْسَنَ النَّاسِ فَقَالَ لَهَا إِنَّ هَذَا الْجَبَّارَ إِنْ يَعْلَمْ أَنَّكِ امْرَأَتِي يَغْلِبْنِي عَلَيْكِ فَإِنْ سَأَلَكِ فَأَخْبِرِيهِ أَنَّكِ أُخْتِي }

“Sesungguhnya Nabi Ibrahim tidak pernah berdusta selain pada tiga kesempatan, yaitu

1.) Perkataan Nabi Ibrahim bahwa, ‘Sesungguhnya aku sakit’ (QS. Ash Shaaffaat: 89)

2.) Perkataan Nabi Ibrahim bahwa, ‘Sebenarnya patung yang paling besar itulah yang melakukannya’ (Al Anbiyaa’: 63)

3.) Serta tentang Sarah, ketika Nabi Ibrahim dan Sarah masuk ke wilayah raja yang kejam, sedangkan Sarah adalah perempuan yang sangat cantik. Nabi Ibrahim berkata kepada Sarah, ‘Wahai Istriku, ketahuilah jika raja yang kejam itu tahu bahwa kamu adalah istriku maka ia akan merebutmu dariku. Oleh karena itu, jika ia bertanya kepadamu maka katakanlah bahwa kamu adalah saudara perempuanku’ (karena raja itu memiliki gangguan seksual berupa ketertarikan pada istri orang lain).”

(HR. Muslim no. 4371 versi aplikasi Lidwa; no. 2371 versi Syarh Shahih Muslim)

Hadits ini menjelaskan bahwa saat Nabi Ibrahim berkata dirinya sedang sakit sambil memandang bintang-bintang (QS. Ash Shaaffaat: 88–89), sejatinya ia sedang tauriyah (mengucapkan kalimat yang memiliki lebih dari satu makna) atau berbohong secara tidak langsung.

Hal ini Nabi Ibrahim lakukan agar dirinya ditinggalkan sendirian saat perayaan hari raya, sehingga ia dapat melakukan rencananya untuk menghancurkan berhala-berhala kaumnya.

“Nabi Ibrahim memandang ke bintang-bintang (QS. Ash Shaaffaat: 88)” menunjukkan peristiwa ini terjadi di malam hari, saat kuil peribadatan kaumnya dalam kondisi kosong untuk sementara waktu, yaitu dalam salah satu rangkaian acara perayaan Tahun Baru Akitu.

Saat itu orang-orang Mesopotamia menggunakan sistem kalender lunisolar yang diberlakukan sejak masa Raja Shulgi (sekira abad ke-21 SM).

Kalender lunisolar adalah gabungan kalender bulan dan kalender matahari. Jumlah hari dalam satu bulan pada kalender lunisolar menggunakan hitungan berdasar peredaran riil bulan, yaitu 29 atau 30 hari. Bulan baru dimulai ketika bulan sabit pertama terlihat di ufuk barat sebelum matahari terbenam.

Namun, pada kalender lunisolar, ada bulan kabisat (bulan ke-13) yang ditambahkan pada tahun-tahun tertentu agar dapat menyesuaikan dengan jadwal pergantian musim dalam kalender matahari.

Kalender lunisolar Mesopotamia memulai tahun baru bersamaan dengan ekuinoks musim semi di belahan bumi utara, yaitu ketika matahari melintas tepat di atas khatulistiwa sehingga siang dan malam memiliki panjang waktu yang sama.

Tahun baru tersebut dinamakan Akitu, dan merupakan festival musim semi untuk merayakan penaburan benih jelai (sejenis gandum).

Akitu adalah hari raya utama yang dirayakan selama beberapa hari, di mana salah satu rangkaiannya adalah masyarakat berkumpul di Sungai Efrat sehingga kuil peribadatan ditinggalkan untuk sementara.

Pada saat itulah Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala di kuil peribadatan kaumnya, dan menyisakan patung berhala yang paling besar.

Saat kaumnya kembali ke kuil peribadatan untuk melanjutkan rangkaian acara perayaan Akitu, mereka mendapati kehancuran patung-patung berhala tersebut.

Mereka pun mencurigai Nabi Ibrahim yang memiliki rekam jejak sebagai pemuda yang kerap mengkritik praktik pemujaan berhala (QS. Al Anbiyaa’: 60).

Nabi Ibrahim kemudian mengatakan bahwa yang menghancurkan patung-patung berhala mereka adalah patung yang paling besar yang tidak hancur. Nabi Ibrahim lalu menyuruh kaumnya untuk bertanya sendiri kepada patung yang paling besar tersebut (QS. Al Anbiyaa’: 63).

Kaumnya lalu mengakui bahwa berhala itu tidak dapat berbicara (QS. Al Anbiyaa’: 65) sehingga menunjukkan kebenaran hujjah Nabi Ibrahim bahwa berhala-berhala tersebut tak layak disembah karena tak mampu bicara dan tak mampu membela diri sendiri. Hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah.

Kisah ini menunjukkan kecerdasan Nabi Ibrahim dalam berdakwah, dari mulai mempertanyakan penuhanan dewa-dewa langit (QS. Al An’aam: 76–83) hingga menunjukkan kelemahan dewa-dewa tersebut (QS. Al Anbiyaa’: 58–67).

Nabi Ibrahim lalu dihukum oleh kaumnya dengan cara dibakar, tetapi tidak berhasil karena Allah menyelamatkannya (QS. Al Anbiyaa’: 68–69). Nabi Ibrahim kemudian hijrah meninggalkan negerinya, dan menuju ke wilayah Syam (QS. Al Anbiyaa’: 71).

Wallahu A’lam

[1] David M. Rohl, The Lords of Avaris: Uncovering the Legendary Origins of Western Civilisation (London: Century, 2007), hlm. 234.

[2] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2 (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hlm. 237.

[3] Ibid, Jilid 4, hlm. 35.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings