in

Wali dalam Katolik dan Islam. Halloween yang identik dengan horor dan… | by Wiji Al Jawi | Nov, 2023


Wiji Al Jawi

Islampedia

Photo by Marek Piwnicki on Unsplash

Secara bahasa, wali berarti dekat, sahabat, dan pendukung. Sehingga wali Allah adalah orang yang dekat dengan Allah. Karena kedekatannya dengan Allah maka wali Allah kerap dianggap sebagai “orang suci”.

Wali dalam Katolik

Dalam Gereja Katolik, istilah untuk orang suci (kudus) adalah Santo (bagi wanita: Santa). Secara umum, gelar Santo diberikan setelah Gereja Katolik melakukan proses yang dinamakan kanonisasi.

Kanonisasi adalah pengakuan resmi dari Gereja Katolik bahwa seseorang yang sudah meninggal tersebut telah menjalani kehidupan dengan kebajikan heroik sehingga layak dinyatakan sebagai Santo.

Setelah dikanonisasi, jasad dan benda-benda yang berhubungan khusus dengan orang kudus tersebut dianggap suci, dan disebut sebagai relikui (benda-benda keramat).

Relikui dianggap memiliki mukjizat, seperti penyembuhan dari penyakit, sehingga lokasi penyimpanannya menjadi tujuan ziarah umat Katolik.

Pemuliaan terhadap para Santo ini bukan hanya melalui relikui, namun juga dengan ikon atau gambarnya.

Ada pula Santo Pelindung untuk profesi atau tempat tertentu, seperti Santa Cecilia yang dianggap sebagai pelindung para musisi, dan Santo Petronius yang dianggap sebagai pelindung kota Bologna.

Umat Katolik bahkan dibolehkan untuk berdoa meminta kepada para Santo, karena Santo dianggap dapat menjadi perantara dalam berdoa kepada Tuhan.

Doa-doa tersebut antara lain adalah doa kepada Santo Antonius untuk menemukan barang hilang, doa kepada Santa Anna untuk meminta keturunan, dan doa kepada Santo Rafael untuk meminta jodoh.

Santo-Santa ini pun memiliki hari raya, seperti Hari Raya Santo Yusuf pada tanggal 19 Maret, Hari Raya Santa Teresia pada tanggal 15 Oktober, serta Hari Raya Semua Orang Kudus pada tanggal 1 November.

Perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus (All Hallows’ Day) dimulai pada malam tanggal 31 Oktober yang disebut sebagai Malam Para Kudus (Halloween).

Perayaan Halloween yang saat ini identik dengan hal-hal mengerikan dan supernatural merupakan akibat dari kristenisasi Hari Raya Samhain milik kaum pagan Gaelik.

Perayaan Samhain menandai akhir musim panen dan awal musim dingin, yaitu pada malam tanggal 31 Oktober, karena bangsa Gael memulai hari saat matahari terbenam.

Bangsa Gael menganggap bahwa arwah orang mati akan kembali ke rumah mereka pada satu malam dalam setahun. Karena itulah perayaan Samhain diadakan.

Sementara itu, sejak abad ke-4 M, festival memperingati semua martir Kristen telah diadakan di berbagai tempat pada berbagai tanggal menjelang Paskah (Maret atau April).

Pada awal abad ke-9 M, beberapa gereja di Kepulauan Inggris mulai mengadakan Hari Raya Semua Orang Kudus di setiap tanggal 1 November dalam rangka kristenisasi Hari Raya Samhain.

Kekaisaran Frank di Eropa Barat kemudian menjadikan tanggal tersebut sebagai hari raya resmi. Hal ini karena masyarakat berbahasa Jerman dan Celtic juga memperingati orang mati pada awal musim dingin.

Sehingga, perayaan Halloween yang identik dengan horor dan supernatural, sejatinya adalah bagian dari Hari Raya Semua Orang Kudus atau Hari Raya Para Wali.

Wali dalam Islam

Telah disebutkan di awal bahwa wali Allah adalah orang yang dekat dengan Allah. Kedekatan ini diperoleh melalui iman dan selalu bertakwa.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”

(QS. Yunus: 62–63)

Mereka selalu bertakwa sehingga tidak bersedih terhadap kegagalan yang pernah dialami di masa lalu, dan tidak khawatir terhadap kemungkinan adanya kesulitan di masa depan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

‘Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya. Dan hamba-Ku tidak mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah sampai Aku semakin mencintainya.’”

(HR. Bukhari no. 6021 versi aplikasi Lidwa; no. 6502 versi Fathul Bari)

Hadits ini menunjukkan bahwa ketakwaan yang membuat seseorang menjadi wali Allah adalah dengan selalu melaksanakan amalan yang wajib dan juga sunnah.

Orang yang selalu mengisi waktunya dengan perkara-perkara sunnah, secara otomatis akan menjauhi yang haram, meninggalkan yang makruh, dan tidak berlebihan dalam perkara yang mubah.

Penyimpangan terhadap Kedudukan Wali Allah

Adanya wali Allah dalam Islam merupakan salah satu motivasi agar manusia selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui ketakwaan.

Umat Islam juga boleh meminta doa kepada orang saleh yang masih hidup. Seperti para sahabat yang meminta paman Nabi berdoa untuk menurunkan hujan (HR. Bukhari no. 1010 versi Fathul Bari).

Namun, tidak sedikit umat Islam yang melakukan penyimpangan terhadap kedudukan wali Allah. Seperti menganggap gambar atau benda yang berhubungan khusus dengan wali sebagai benda yang keramat.

Ada pula yang berziarah ke makam para wali dan berdoa meminta kepada wali yang sudah meninggal tersebut.

Bahkan, ada yang sampai menganggap bahwa seorang wali memiliki privilese (hak istimewa) untuk melakukan kemaksiatan dan tidak beribadah.

Padahal, para wali Allah seperti ashabul kahfi, Maryam, dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang selalu mengisi waktunya dengan ibadah dan menjauhi kemaksiatan.

Sebagai manusia biasa, mereka juga terkadang salah dan berdosa. Namun, mereka menutupnya dengan taubat dan perbuatan baik.

Karamah wali Allah pun tidak terjadi terus menerus. Seperti Maryam yang menjatuhkan kurma saat menggoyang pangkal pohonnya, hal ini hanya terjadi ketika dia menghadapi kesulitan akan melahirkan.

Karena itu, wali Allah bukanlah manusia super. Mereka tetap dibebani hukum syariat, dan hanya pada waktu-waktu tertentu dianugerahi karamah yang melampaui hukum alam.

Wali Allah adalah manusia biasa yang selalu bertakwa, bersabar, dan bersyukur, sehingga hatinya tenang dari trauma kegagalan yang pernah dialami, dan dari kecemasan akan masa depan.

Wallahu A’lam


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings